|
ASAS-ASAS AKTING……….
Akting merupakan pekerjaan terencana. Yang diperhitungkan ialah bagaimana hubungan kerja pikiran dan perasaan untuk melahirkan sejumlah pikiran dan perasaan baru. Pikiran mengatur perasaan. Perasaan tak bisa dibiarkan teranja-anja, sebab itu bisa berakibat kerja akting lari, hilang waskita. Perasaan demi perasaan digalang dalam pikiran sebagai pengalaman, diwadahkan dalam ingatan.
Sendi-sendi utama dalam meraih kepekaan adalah selalu waskita terhadap fiil alat driya. Landasan akting berasal dari sana. Kita melihat asas itu pada kecakapan aktor mengadakan pengendalian, keutuhan, kerapian, pedalaman.
1. Asas pengendalian. Setiap saat, begitu aktor berhadappan dengan peran, ia harus luluh lebur dalam penghayatan, dalam tugas pelaksanaan peran itu, masuk dalam penjiwaan lalu menunggal. Namun, dalam penghayatan yang luluh lebur ini, kesadarannya tetap terjamin tinggi bahwa segala hal yang diperbuatnya dengan sungguh-sungguh ini, adalah sesungguhnya pula hanya permainan, bukan keadaan yang sesungguhnya.
Tugasnya ialah memberi keyakinan pada penonton bahwa yang tak sungguh adalah kebenaran. Apabila ia menangis tersedu sedang, ia bertugas meyakinkan penonton bahwa ia benar-benar meratap karena beberapa alasan, namun, sejauh itu kesadarannya tetap terpelihara bahwa ratapan yang harus meyakinkan itu, adalah suatu permainan belaka.
Dalam hal ini, penghayatan batinnya bisa dibantu dengan beberapa sudut penggunaan alat lahir: gerak jasmani, mimik, gestur, dan bloking: membuatnya jadi sajian visual yang bagus, artinya menggapai yang diperlukan menurut takaran yang pas, membuang yang tak perlu. Tak mampunya mengendalikan takaran itu, memungkinkan terjadinya akting yang mubazir. Ironi terhadap akting yang mubazir ini ia terbang atau ia tenggelam.
a. Akting yang terbang. Kerja akting yang terlalu banyak bumbu sehingga makna cerita melayang. Ini sebabnya karena aktor terlalu ingin kreatif, dan kreatifnya kelebihan. Akibatnya, aktingnya layak masakan yang kebanyakan vitsin. Bukannya enak, melainkan pahit.
b. Akting yang tenggelam. Kerja akting terlalu rendah. Ini sebabnya karena aktor kurang cekatan, tidak kreatif. Akibatnya, kerja aktingnya kabur dan ruwet. Seperti kapal, niatnya hendak merapat ditanah tepi, kepalang karam ditengah lautan.
2. Asas keutuhan. Akting ibarat kerja arloji. Jarum, per, roda-roda, semuanya berkerja sama, mengatur diri masing-masing untuk mencapai satu kesatuan. Kita tidak bisa menyebut arloji bila jarumnya dicopot, atau pernya tak jalan. Benda itu bukan arloji lagi. Kita akan menyebutnya itu bekas arloji, atau arloji rusak. Mengapa ? sebab ia tidak berfungsi lagi sebagai arloji.
Akting pun sama seperti kerja mekanis arloji. Antara satu bagian dengan bagian lainnya, terjadi sifat kerja yang sendiri-sendiri, tetapi sekaligus bersamaan, menuju kesatu tujuan yang sama, yakni kesatuan makna. Aktor harus tahu persis bagaimana memainkan kerjasama itu. Kerjasama ini bertolak pada citra sastra dan citra sutradara.
a. Citra sastra. Hasil kerja akting mesti terikat pada pandangan pengarang.
b. Citra sutradara. Hasil kerja akting mesti terikat pada pokok penafsiran sutradara.
3. Asas kerapian. Seni menuntut kerja artistic yang rapi. Boleh tidak keruan, halai balai, rancu, dan pontang-panting, tetapi harus rapi. Syarat-syarat kebenaran objektif, betapapun hasilnya relative, harus dipertahankan sebagai sesuatu yang indah. Keindahan merupakan wujud kerja yang rapi.
Kerapian adalah wujud ikhtiar. Jika dalam ikhtiar aktor tak punya upaya apa-apa terhadap wujud itu, sudah tentu itu tidak pernah mengenal arti kerapian itu. Kerapian datang dari beberapa sumber. Pertama, sumber itu berada dalam dirinya sendiri, Kedua, dari ’lingkungannya dalam teater, dan terakhir dari penonton.
a. Diri sendiri. Kerjanya ditentukan oleh penguasaan yang lugas terhadap mekanisme alat-alat tubuh, lahir dan bhatin, yakni tenaga-dalam-diri dan tenaga-luar-diri.
b. Lingkungan teater. Semua pribadi yang terlibat dalam sebuah pementasan merupakan bagian kesatuan yang mendorong dan saling pengaruh terhadap kerjanya.
c. Penonton. Dorongan paling besar yang mempengaruhi kerjanya adalah penonton. Ia mesti yakin bahwa teater dilangsungkan bukan untuk aktor, melainkan untuk penonton. Penonton adealah raja.
4. Asas pendalaman. Kerja akting menyuruh aktor mendalami akal budi dengan seksama. Pendalaman mungkin tercapai jika dalam persiapan mengasah akal budi, seorang aktor mampu membuka otak, mengosongkan hati. Ronggowarsito dalam Serat Sabda Jati menulis sesuatu yang menarik tentang upaya mengosongkan hati. Katanya, ”kebajikan dalam diri tersimpan pada pikiran, ada pada hati yang kosong, isinya daya cipta yang murni”.
Bagaimana menyiapkan asas pendalaman? Hati memang harus dibuat suatantra, otak harus tajam. Ujian pendalaman. Secara langsung dikerjakan dalam perwujudan kerja akting di atas panggung. Kita sebut kerja langsung ini sebagai kodrat alami panggung. Ia merupakan triwara.
a. Wara perbuatan. Aktor bertanya, apa yang harus dia lakukan? Apa motivasinya? Ia menyangkut hal jasmani dan rohani.
b. Wara kehendak. Aktor bertanya, bagaimana harus ia lakukan? Kehendak dibangun oleh dua gejala pokok, yang wiyasa dan yang rohani.
c. Wara keputusan. Aktor menentukan pilihan, setelah berlangsung perjuangan motif dan pertimbangan-pertimbangan nafsu, hasrat, naluri. Disini ia memutuskan: begini yang harus ia lakukan.
|