|
Akting ???
Akting membutuhkan bakat. Bakat di kamus diartikan sebagai suatu kemampuan yang alamiah dari seseorang yang mempunyai inklinasi-inklinasi yang bersifat spesial dan kreatif. Dalam diri seorang aktor, kemampuan-kemampuan ini adalah sensitivitas yang tinggi dan responsif terhadap penglihatan, bunyi, sentuhan, rasa, dan bau. Termasuk sensitif terhadap orang lain, mudah tergerak oleh keindahan dan penderitaan, serta memiliki imajinasi yang tinggi tetapi tidak lepas kontrol pada realita.
Jika seseorang sudah diberkati oleh kemampuan-kemampuan ini, maka hasratnya yang tak tergoyahkan untuk menjadi aktor diiringi oleh keinginan untuk mengekspresikan yang sudah dirasakannya itu, lalu diidentifikasikan sebagai karakter, akan nyata di atas panggung. Walaupun demikian, perlu dicamkan bahwa maksud dari istilah sensitif dan keinginan untuk mengekspresikan diri di sini, jangan disalahartikan dengan niat egois untuk tampil.
Pada dasarnya, seorang aktor adalah seorang seniman yang mengekspresikan dirinya sendiri. Ketika dia mempersiapkan diri untuk tampil dalam sebuah pertunjukan, usaha yang dilakukannya adalah mendefinisikan kembali atau membuat definisi baru. Dia masuk ke dalam sebuah pengalaman hidup, atau realita baru yang berkembang, tetapi lebih peka, dari kehidupannya sendiri. Kemampuan untuk menjadi “orang baru”, serta pengertiannya tentang pengalaman yang dijabarkan oleh naskah dan yang disampaikannya dalam pertunjukan, menggerakkan perasaan dan pikiran penonton sehingga mereka mengalami kesamaan suasana jiwa dengan yang dialaminya itu.
Untuk membuatnya mampu mendefinisikan kembali atau membuat definisi baru di atas panggung, si aktor harus melalui tiga fase proses pendidikan akting itu sendiri. Pertama-tama, dia harus meningkatkan kemampuan eksprisinya. Dia harus mampu menggali ke dalam dirinya, ke dalam kehidupan sehari-hari, untuk menciptakan satu sistem keseimbangan tubuh sehingga mampu mengekspresikan reaksi-reaksi yang sangat tinggi dan fleksibel tingkat responnya yang dituntut dalam sebuah pertunjukan. Kedua, dia harus meningkatkan kemampuan menganalisa. Dia harus mampu menyelidiki naskah dan membuka kekayaan-kekayaan yang tersembunyi di dalamnya, sehingga kreasinya sendiri tentu akan memenuhi tuntutan yang dimaksud oleh naskah. Ketiga, dia harus meningkatkan kemampuan mentransformasi diri. Transformasi adalah kemampuan yang memberi arti dan bentuk kepada kemampuan ekspresi dan analisa, yaitu kemampuan “naluri” untuk mentransformasikan diri memainkan peran dan kemampuan imajinatif menaruh diri sepenuhnya dalam karakter yang fiktif.
Proses meningkatkan kemampuan fisik (ekspresi), intelektual (analisa), dan spiritual (transformasi) inilah yang dituntut dari seorang aktor, yaitu proses memahami dirinya sebagai satu bentuk fisik unik yang terdiri dari ketiga bagian di atas. Kemampuan-kemampuan tersebut saling menyokong dan jika salah satu diantaranya tidak ada, yang dua lainnya tidak berguna. Tentu, semua itu tidak dapat dicapai tanpa disiplin, karena tanpa disiplin ketiga hal di atas tidak mungkin dapat dikembangkan. Disiplin dalam konteks ini adalah rasa hormat pada diri, rasa hormat pada teman main, dan rasa hormat pada pekerjaan utama si aktor itu sendiri. Sambil meningkatkan kemampuan fisik, intelektual dan spiritualnya, dia akan melakukan latihan-latihan teknis yang membantu meningkatkan ketrampilannya. Usahanya adalah melakukan semua latihan tersebut dengan dedikasi yang tinggi dan penuh disiplin, karena tanpa disiplin, sensitifitas, kepekaan dan konsentrasi, semua yang ingin dihasilkan tidak akan pernah tercapai.
|