AKTOR DAN DIRINYA
emampuan ekspresi adalah pelajaran pertama yang harus dilalui seorang actor sebelum masuk ke pelajaran-pelajaran yang lain yang berhubungan dengan naskah. Kemampuan ekspresi adalah usaha seorang actor untuk mengenal dirinya. Si actor akan berusaha untuk meraih ke dalam dirinya dan menciptakan perasaan-perasaan yang dimilikinya setiap hari, untuk menjadi lebih peka responnya.
Dia akan berusaha untuk menciptakan system reaksi yang beragam yang dapat memenuhi tuntunan teknis pementasan. Banyak actor yang mengatakan bahwa dia sudah mengenal dirinya, bahwa dia mengenal dirinya karena orang lain yang mengatakannya begini atau begitu, bahwa dia mengenal dirinya, melalui segi fisiknya. Tetapi itu saja belum cukup karena seorang actor harus mengerti bahwa kemampuan ekspresi di muali dari usahanya mendisiplinkan diri. Disiplin yang berakar dari rasa hormat seseorang pada dirinya, lawan main seniman-seniman lain dari dunia teater, bahkan kepada khlayak umum yang tidak ada hubungannya dengan seni akting. Tentang disiplin,Konstain Stanislavsky berkata:”
Coba jelaskan kepada saya kenapa seorang pemain biola yang bermain di sebuah orkestra harus melakukan latihan berjam-jam setiap hari,karena kalau tidak kemampuanya bermain akan hilang? Kenapa seorang penari bekerja berjam-jam setiap hari untuk melenturkan otot-ototnya? Kenapa seorang pelukis, pematung, atau penulis berlatih berjam-jam setiap hari dan kehilangan hari berlatih itu jika dia tidak latihan? Dan kenapa seorang actor boleh untuk tidak melakukan apa-apa,membuang hari-harinya di kafe-kafe dan berharap mendapat inspirasi pada malam hari? Cukup. Apakah ini seni jika, pendeta-pendetanya berbicara seperti amatir-amatir?tidak ada seni yang tidak menuntut kesempurnaan.1
Dasar dari kemampuan ekspresi adalah diri pribadi seorang actor ketika dia berhubungan social dengan orang lain. Fondasi inilah yang diatasnya harus dibangun kemampuan-kemampuan ekspresi diri. Sebagai seorang actor dalam kehidupan sehari-hari, dia sebenarnya sudah berlatih bertahun-tahun untuk memainkan dirinya sendiri. Tetapi sebagai actor panggung atau film, dia harus mampu memainkan karakter-karakter yang beragam macamnya, terkadang berbeda jauh dengan dirinya sehari-hari, dia haru mampu untuk”hidup” di “dunia” yang berbeda itu. Dia harus mampu menggunakan energi yang dimilikinya untuk meraih pengalaman-pengalaman baru untuk dipresentasikan dalam ebuah pertunjukan. Didalam kehidupan sehari-hari si actor sudah memainkan peran yang berbeda-beda untuk situasi dan penonton yang berbeda-beda.Misalnya, ketika berbincang dengan atasan, sahabat karib, pacar, atau kenalan biasa, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dia memiliki postur tubuh, kualitas suara dan bahasa yang berbeda-beda.demikian pula dengan rasa percaya diri, termasuk besar tubuh, berat, rasa apakah dia menarik atau tidak,dan caranya memproyeksikan pandangan diri orang-orang tersebut tentang dirinya.Semua ini mempunyai bentuk dan cara yang berbeda-beda, tetapi semua itu tetap mewakili diri pribadi si actor sendiri, bukan orang lain. Demikian pula halnya diatas panggung atau didepan kamera, dimana si actor akan memainkan peran yang berbeda-beda tetapi tetap adalah dirinya sendiri. Segi social dari keaktoran ini harus dilatih sedemikian rupa sehingga ia peka dan memiliki respon yang beragam. Untuk kemampuan ekspresi ini, stanislavsky :”Selalu dan kapanpun kau berada diatas panggung, kau harus memainkan dirimu sendiri. Tetapi dalam beragam kombinasi sasaran yang tidak terbatas dan keadaan tertentu yang sudah dipersiapkan untuk peranmu dan yang telah dilebur dalam tungku pembakaran ingatan emosimu”.2 Penulis naskah sudah menyiapkan beragam kombinasi sasaran dan keadaan untuk peran yang si actor mainkan, dimana dia meleburnya dalam tungku pembakaran ingatan emosi atau pengalaman pribadinya. dengan kata lain, proses kehidupan social, modal, psikologi, politiknya.
Kemampuan ekpresi menurut teknik-teknik penguasaan tubuh seperti relaksasi, konsentrasi, kepekaan, kreatifitas, dan kepenuhan diri (pikiran, perasaan, dan tubuh yang seimbang) seorang actor harus terpusat pada pikirannya.Lentur otot-ototnya sehingga dia siap siaga untuk betindak dengan gestur-gestur yang tidak di persiapkan terlebih dulu,tetapi dengan spontan keluar dari dalam dirinya sehingga fungsi dan kualitasnya terlihat jelas dan mengekspresikan perasaanya yang terdalam, demikian pula dengan teknik-teknik penguasaan suara yang menuntut proses pernafasan dan alat ucap yang terlatih sehingga si actor mampu memproduksi suara dan menciptakan artikulasi yang jelas. Latihan-latihan vocal ini tediri dari tidak hanya latihan-latihan penafasan dan artikulasi, tetapi juga mengenal bunyi huruf baik konsonan maupun huruf hidup, yang sifat nasal atau tidak nasal.
Tentu dalam setiap latihan, si actor harus mampu mengasosiasikan semua kemampuan ini kedalam aksi dramatis dan karakter yang dimainkannya.Mungkin pada mulanya, si actor tidak begiti banyak berhadapan dengan naskah ketika dia sedang meningkatkan kemampuan ekspresinya.Semua latihan yang dilakukanya mungkin saja tidak dapat langsung diasosiasikan dengan naskah.Tetapi banyak latihan-latihan improvisasi yang dapat dilakukanya yang behubungan dengan kemampuan ekpresi tetapi sesuai dengan suasana, situasi dan tuntunan-tuntunan teknis dari sebuah pementasan.
Dengan demikian, kemampuan ekspresi tidak banya menuntut si actor untuk segera menguasai karakter-karakter dari naskah-naskah yang konfliknya ringan atau berat.Pendidikan akting sebaiknya tidak langsung dimulai dengan menyelidiki atau memainkan karakter. Perhatian utama si actor harus diberikan pada seluruh apparatus fisiknya, pada seluruh proses untuk mengenal dirinya dia tidak dibenarkan untuk mengerti seorang hamlet atau romeo, atau Macbeth jika dia sendiri tidak mengenal siapa dirinya. Karakter-karakter hasil dari daya khayal penulis naskah tidak mungkin dapat dimainkan dengan jujur, atau dipresentasikan dengan sempurna, jika si actor yang memainkannya tidak mengenal siapa dirinya. Bagaimana orang mampu mengenal orang lain jika dia sendiri tidak mengenal dirinya?
|